Bukti-bukti kecintaan Allah SWT kepada para hamba-Nya, sebagaimana
disebutkan di dalam Alquran, amatlah banyak. Di antara bukti yang paling
penting adalah penerimaan Allah SWT atas tobat para pelaku maksiat,
pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, keridhaan-Nya kepada mereka dan
kecintaan-Nya kepada mereka setelah sebelumnya Dia membenci mereka.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Memohon ampunlah kalian kepada Tuhan kalian karena sesungguhnya
Dia Maha Pengampun (TQS Nuh: [70]: 10); Siapa saja yang melakukan kesalahan atau menzalimi dirinya
sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, pasti ia akan mendapati
Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (TQS an-Nisa’
[4]:110); Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui
batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus-asa terhadap rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS az-Zumar [39]: 53);
Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemilik ampunan
bagi manusia yang telah menzalimi diri mereka sendiri (TQS
ar-Ra’du [13]: 6); Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (TQS
al-Baqarah [2]: 222).
Beberapa ayat di atas dan ayat-ayat lain yang semisalnya
menunjukkan bahwa Allah SWT membentangkan tanganNya dengan penuh rahmat dan
kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya untuk menerima tobat mereka sekaligus
menghapus kesalahan-kesalahan mereka.
Di antara rahmat Allah SWT adalah Dia akan menukar berbagai dosa
dan kesalahan hamba-Nya yang bertobat dengan berbagai kebaikan sebagai balasan
kepada dirinya yang telah mau bertobat dan kembali ke haribaan-Nya.
Allah SWT tidak suka menghukum dan menyiksa kaum Mukmin.
Allah SWT bahkan amat mengasihi dan menyayangi orang-orang Mukmin yang bertobat
kepada-Nya. Secara hakiki Allah SWT tidaklah membenci hamba-Nya kecuali
hamba-hamba-Nya yang kafir dan tetap dalam kekafirannya, para pelaku maksiat
yang terus-menerus dalam kemaksiatan mereka dan orang-orang yang secara
terang-terangan melakukan perbuatan dosa dan keharaman.
Karena itulah, Allah SWT telah menyeru manusia agar bersegera
untuk bertobat dari dosa-dosa mereka sekaligus memohon ampunan kepada-Nya.
Seruan ini merupakan bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada para hamba-Nya. Di
dalam sebuah hadits qudsi penuturan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah
bersabda bahwa Allah SWT telah berfirman: Wahai hamba-Ku, kalian
melakukan dosa siang-malam, sementara Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya.
Karena itu, memohon ampunlah kalian kepada diri-Ku, niscaya Aku akan mengampuni
kalian (HR Muslim).
Allah adalah Maha Penerima tobat. Ampunan-Nya amat luas. Karena
itu, tidak seorang pun layak berputus asa dari rahmat dan kasih-sayang Allah
SWT. Tangan Allah SWT selalu terbuka bagi orang-orang yang mau bertobat dan
kembali kepada-Nya. Karena itulah, seseorang tidak selayaknya mendahului Allah
SWT dengan menyatakan kepada pelaku dosa bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni
dosanya. Rasulullah SAW sebagaimana dituturkan oleh Jundab ra, pernah
bersabda, “Sesungguhnya pernah ada seseorang berkata,
‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Lalu Allah SWT berfirman
kepada orang itu, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku dengan menyatakan
bahwa Aku tidak akan mengumpuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengumpuni dia
dan membatalkan amal kamu.’” (HR Muslim).
Terkait hadits di atas, Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani menyatakan bahwa
Allah SWT membatalkan pahala seluruh amal orang itu karena murka terhadap orang
tersebut. Pasalnya, dia telah menghalangi seseorang dari luasnya rahmat dan
ampunan Allah SWT dan dia tidak menyukai untuk hamba-Nya apa yang dia sukai
untuk dirinya sendiri (dalam hal ini ampunan Allah SWT, pen). (Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani, Mukaffirat ad-Dzunub wa Mujibat al-Jannah, I/8).
Tentang betapa luasnya ampunan Allah SWT, Anas bin Malik ra
berkata bahwa ia pun pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu berdoa
dan berharap kepada diri-Ku. Aku pun telah mengampuni dosamu dan aku tidak
peduli lagi. Wahai anak Adam, andai dosa-dosamu setinggi langit, lalu
kamu memohon ampunan kepada diri-Ku, Aku pasti akan mengampuni kamu atas
dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, andai kamu mendatangi
Aku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu kamu datang kepada diri-Ku tanpa
menyekutukan Aku dengan apa pun, Aku pasti akan mendatangi kamu dengan membawa
ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR at-Tirmidzi).
Anas bin Malik ra pun menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah
bersabda, “Allah itu amat berbahagia dengan tobatnya
salah seorang dari kalian saat dia bertobat. Kebahagiaan Allah (karena tobatnya
seorang hamba-Nya, pen.) itu melebihi kebahagiaan seseorang di antara kalian
yang mengendarai hewan di sebuah tanah lapang; hewan itu lalu lepas dan
menghilang, sementara seluruh bekal makanan dan minumannya ada di atas hewan
itu; ia sampai putus asa mencari hewan itu; kemudian ia berteduh di bawah
sebuah pohon dalam keadaan putus asa; tetapi saat ia bangun, tiba-tiba hewan
itu ada di samping dirinya dengan membawa seluruh perbekalannya sehingga ia pun
amat berbahagia.” (HR Muslim dan Ahmad).
Abu Musa al-Asy’ari ra juga menuturkan bahwah Rasulullah SAW
pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah selalu
membentangkan tangannya pada siang hari untuk menerima tobat para pelaku dosa
pada malam harinya. Allah pun selalu membentangkan tangan-Nya pada malam hari
untuk menerima tobat para pelaku dosa pada siang harinya.” (HR
Muslim).
Rasulullah SAW yang terpelihara (ma’sum) dari dosa
sekalipun tetap memohon ampunan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda
beliau, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah SWT
dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR al-Bukhari).
Bagaimana dengan kita? [] http://mediaumat.com/
Bukti-bukti kecintaan Allah SWT kepada para hamba-Nya, sebagaimana
disebutkan di dalam Alquran, amatlah banyak. Di antara bukti yang paling
penting adalah penerimaan Allah SWT atas tobat para pelaku maksiat,
pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, keridhaan-Nya kepada mereka dan
kecintaan-Nya kepada mereka setelah sebelumnya Dia membenci mereka.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Memohon ampunlah kalian kepada Tuhan kalian karena sesungguhnya
Dia Maha Pengampun (TQS Nuh: [70]: 10); Siapa saja yang melakukan kesalahan atau menzalimi dirinya
sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, pasti ia akan mendapati
Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (TQS an-Nisa’
[4]:110); Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui
batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus-asa terhadap rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS az-Zumar [39]: 53);
Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemilik ampunan
bagi manusia yang telah menzalimi diri mereka sendiri (TQS
ar-Ra’du [13]: 6); Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (TQS
al-Baqarah [2]: 222).
Beberapa ayat di atas dan ayat-ayat lain yang semisalnya
menunjukkan bahwa Allah SWT membentangkan tanganNya dengan penuh rahmat dan
kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya untuk menerima tobat mereka sekaligus
menghapus kesalahan-kesalahan mereka.
Di antara rahmat Allah SWT adalah Dia akan menukar berbagai dosa
dan kesalahan hamba-Nya yang bertobat dengan berbagai kebaikan sebagai balasan
kepada dirinya yang telah mau bertobat dan kembali ke haribaan-Nya.
Allah SWT tidak suka menghukum dan menyiksa kaum Mukmin.
Allah SWT bahkan amat mengasihi dan menyayangi orang-orang Mukmin yang bertobat
kepada-Nya. Secara hakiki Allah SWT tidaklah membenci hamba-Nya kecuali
hamba-hamba-Nya yang kafir dan tetap dalam kekafirannya, para pelaku maksiat
yang terus-menerus dalam kemaksiatan mereka dan orang-orang yang secara
terang-terangan melakukan perbuatan dosa dan keharaman.
Karena itulah, Allah SWT telah menyeru manusia agar bersegera
untuk bertobat dari dosa-dosa mereka sekaligus memohon ampunan kepada-Nya.
Seruan ini merupakan bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada para hamba-Nya. Di
dalam sebuah hadits qudsi penuturan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah
bersabda bahwa Allah SWT telah berfirman: Wahai hamba-Ku, kalian
melakukan dosa siang-malam, sementara Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya.
Karena itu, memohon ampunlah kalian kepada diri-Ku, niscaya Aku akan mengampuni
kalian (HR Muslim).
Allah adalah Maha Penerima tobat. Ampunan-Nya amat luas. Karena
itu, tidak seorang pun layak berputus asa dari rahmat dan kasih-sayang Allah
SWT. Tangan Allah SWT selalu terbuka bagi orang-orang yang mau bertobat dan
kembali kepada-Nya. Karena itulah, seseorang tidak selayaknya mendahului Allah
SWT dengan menyatakan kepada pelaku dosa bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni
dosanya. Rasulullah SAW sebagaimana dituturkan oleh Jundab ra, pernah
bersabda, “Sesungguhnya pernah ada seseorang berkata,
‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Lalu Allah SWT berfirman
kepada orang itu, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku dengan menyatakan
bahwa Aku tidak akan mengumpuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengumpuni dia
dan membatalkan amal kamu.’” (HR Muslim).
Terkait hadits di atas, Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani menyatakan bahwa
Allah SWT membatalkan pahala seluruh amal orang itu karena murka terhadap orang
tersebut. Pasalnya, dia telah menghalangi seseorang dari luasnya rahmat dan
ampunan Allah SWT dan dia tidak menyukai untuk hamba-Nya apa yang dia sukai
untuk dirinya sendiri (dalam hal ini ampunan Allah SWT, pen). (Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani, Mukaffirat ad-Dzunub wa Mujibat al-Jannah, I/8).
Tentang betapa luasnya ampunan Allah SWT, Anas bin Malik ra
berkata bahwa ia pun pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu berdoa
dan berharap kepada diri-Ku. Aku pun telah mengampuni dosamu dan aku tidak
peduli lagi. Wahai anak Adam, andai dosa-dosamu setinggi langit, lalu
kamu memohon ampunan kepada diri-Ku, Aku pasti akan mengampuni kamu atas
dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, andai kamu mendatangi
Aku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu kamu datang kepada diri-Ku tanpa
menyekutukan Aku dengan apa pun, Aku pasti akan mendatangi kamu dengan membawa
ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR at-Tirmidzi).
Anas bin Malik ra pun menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah
bersabda, “Allah itu amat berbahagia dengan tobatnya
salah seorang dari kalian saat dia bertobat. Kebahagiaan Allah (karena tobatnya
seorang hamba-Nya, pen.) itu melebihi kebahagiaan seseorang di antara kalian
yang mengendarai hewan di sebuah tanah lapang; hewan itu lalu lepas dan
menghilang, sementara seluruh bekal makanan dan minumannya ada di atas hewan
itu; ia sampai putus asa mencari hewan itu; kemudian ia berteduh di bawah
sebuah pohon dalam keadaan putus asa; tetapi saat ia bangun, tiba-tiba hewan
itu ada di samping dirinya dengan membawa seluruh perbekalannya sehingga ia pun
amat berbahagia.” (HR Muslim dan Ahmad).
Abu Musa al-Asy’ari ra juga menuturkan bahwah Rasulullah SAW
pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah selalu
membentangkan tangannya pada siang hari untuk menerima tobat para pelaku dosa
pada malam harinya. Allah pun selalu membentangkan tangan-Nya pada malam hari
untuk menerima tobat para pelaku dosa pada siang harinya.” (HR
Muslim).
Rasulullah SAW yang terpelihara (ma’sum) dari dosa
sekalipun tetap memohon ampunan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda
beliau, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah SWT
dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR al-Bukhari).
Bagaimana dengan kita? [] http://mediaumat.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar